not only once, but toujours.
Reblogged from serious
Sepasang bintang saling menari dan mengitari sepanjang hari. Mereka menari dengan riang tanpa mengindahkan makhluk lain yang iri melihat kebersamaan mereka. Mereka saling berpandangan dan saling bertukar senyum satu sama lain. Tidak hanya itu, mereka juga berbincang-bincang tentang kehidupan mereka sebelum sampai di langit. Bagaimana mereka menikmati indahnya bumi, yang sakit, namun tetap memancarkan keindahan yang tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Mereka sadar mereka merindukan bumi renta yang hampir mati itu, namun mereka tak berkuasa lagi atas diri mereka saat ini, bahkan mereka tak berkuasa untuk berhenti berputar, untuk menjelajah semesta yang hanya mereka lihat sepintas dalam putaran.
Di langit, semua terlihat indah, tak kalah indah dari bumi. Namun, seiring bertambahnya usia, bumi sulit menunjukan keindahannya. Sementara langit, ia selalu cantik dengan keindahannya yang tak pernah sulit.
“Kapan terakhir kali kamu melihat matahari terbenam?” Tanya salah satu dari mereka.
“Aku tidak ingat, mungkin beberapa tahun lalu. Saat aku mengunjungi salah satu pantai di bumi.”
“Aku merindukan hangatnya matahari. Di sini, aku hampir tidak bisa melihatnya. Apa kabarnya, ya, dia?”
“Dia pasti baik-baik saja. Yang kutahu, matahari adalah salah satu makhluk tertangguh di semesta.”
“Tangguh apanya, toh, ia masih terikat dengan waktu.”
“Kamu jangan berbicara waktu, karena memang tak akan ada yang bisa bebas darinya.”
“Termasuk kita?”
Walaupun terus berputar sepanjang hari, tak ada rasa lelah membebani. Yang ada hanya bahagia, dan lega. Rasanya utuh, lengkap tak kurang satu apa pun saat mereka bersama. Walau mereka tahu, pada akhirnya kebersamaan mereka akan membawa petaka.
“Bagaimana kehidupanmu saat di sana? Menyenangkan?”
“Ya, kurasa aku cukup senang berada di sana. Aku bisa bebas pergi ke mana pun dan melakukan apa pun yang aku mau.”
“Bebas? Sebebas apa?”
“Bebas… Ya, bebas. Kenapa? Oh.. Aku tahu kamu pasti mau bilang bahwa sesungguhnya kebebasan itu tidak ada. Iya, kan?”
“Bukan begitu. Kebebasan ada, tapi ia adalah ada yang diatasi oleh tidak ada. Sehingga menjadikannya tetap tinggal dalam pikiran.”
“Kebebasan hanya state of mind, begitu?”
“Tepat. Kamu ingat ungkapan ‘aku berpikir maka aku ada’ oleh Decartes, kan? Manusia berpikir bahwa mereka bebas dan, boom! Jadilah mereka bebas. Manusia telah sepakat dengan hukum-hukum alam yang membantu manusia-tubuhnya, terlihat bebas, yang manusia sendiri tidak sadar. Bahkan burung yang kamu lihat terbang bebas, sebenarnya tidak bebas.”
“Kalau burung tidak bebas, lalu kenapa ia bisa terbang, terlihat bebas?”
“Ia bisa terbang dan terlihat bebas karena ia telah beradaptasi dengan hukum-hukum udara yang tidak terlihat. Mereka sudah membuat kesepakatan rahasia agar si burung tersebut dapat terbang, dan membuat manusia yang melihatnya berpikir bahwa mereka bebas.”
“Aku baru tahu tentang itu. Aku tidak pernah memperhatikan hal semacam itu saat aku masih di sana, yang penting aku bisa melakukan apa yang kusuka, maka aku sudah cukup puas dan senang.”
“Aku tahu, banyak manusia yang seperti kamu.”
“Kamu meledekku, ya?”
“Tidak, kok.”
Di langit tempat mereka saling mengitari, tidak terlihat sang malam mau pun siang. Hanya beberapa bintang dengan cahayanya masing-masing yang bergantian lewat, sambil menyapa singkat. Bulan pun hanya sedikit terlihat jika ia penuh, kalau hanya setengah atau pun sabit, akan sangat sulit melihatnya. Tapi si makhluk aneh replika manusia itu selalu terlihat dalam putaran. Makhluk yang mengaku sedang berjalan-jalan santai itu akhirnya menyapa mereka, dan berbincang-bincang sedikit tentang apa yang terjadi di langit tetangga.
“Bagaimana putaran hari ini? Pasti selalu asik karena kalian berdua, kan.” Tanya si replika manusia itu.
“Kami berputar dengan baik, dan cukup santai meski semakin dekat.”
“Itu tandanya momen kalian semakin dekat. Pergunakanlah momen yang tersisa dengan baik.”
“Aku rasa aku belum siap untuk momen yang satu itu.”
“Siap tidak siap, kalian pasti akan tiba pada momen di mana kalian akan saling menghancurkan. Tapi setidaknya kalian bersama-sama, tidak seperti bintang aneh di langit utara itu.”
“Bintang aneh di langit utara? Kenapa bintang aneh?”
“Tidak aneh, sih, sebenarnya.. Tapi dia selalu melamun dan mengeluhkan kekasihnya yang sudah tidak dijumpainya.”
“Kekasihnya? Memang ke mana kekasihnya? Hancur terbakar atmosfer?” “Bagaimana bisa hancur terbakar atmosfer, sampai ke sini juga belum.”
“Wah, kasihan. Pasti ia sangat merindukan kekasihnya.”
“Biarlah dia meratapi nasibnya dulu. Kalau ia sudah bisa merelakan kekasihnya, barulah kupertemukan mereka.”
“Maksudmu, kamu menyembunyikan kekasihnya?” Tanpa menjawab, si makhluk itu pergi meninggalkan mereka. Membiarkan mereka kembali hanyut dalam putaran yang tak terhenti. Membiarkan mereka meratapi nasib mereka, yang akan segera hancur dalam beberapa momen. Yang mereka sendiri tidak tahu kapan.
“Bagaimana jika besok kita akan mulai hancur?”
“Besok? Apa yang kamu maksud dengan besok?”
“Entahlah, aku hanya belum mau meninggalkan putaran ini dan hancur tanpa bisa melihatmu lagi.”
“Siapa bilang kamu tidak bisa melihatku lagi?”
“Maksudmu?”
“Bagaimana jika nanti kita bisa bertemu lagi? Yang entah di mana aku pun tidak tahu, tapi mungkin masih ada kesempatan untuk kita bertemu lagi.” “Kamu jangan menghancurkanku dengan harapan semacam itu.”
–
B29 : Bagaimana mereka?
C1.2 : Baik-baik saja. Sepertinya mereka semakin menikmati putaran yang semakin dekat itu.
B29 : Berapa momen lagi?
C1.2 : Sedikit lagi.
–
Oh don’t you dare look back
Just keep your eyes on me
I said your holding back
She said shut up and dance with me
Oh we were born to get together
Born to get together
Deep in her eyes
I think I see the future
I realize this is my last chance
(Shut Up and Dance – Walk The Moon)
—
Dalam putarannya, salah satu dari mereka terlihat sedih. Putaran dan tarian mereka tak seceria biasanya, kali ini terlihat beban dalam lingkaran yang dulu harmonis itu.
“Jangan memikirkan momen saat kita akan hancur. Kenapa kamu tidak nikmati saja momen yang ada, seperti yang dikatakan makhluk itu.”
“Aku tidak mau kita hancur, aku mau kita terus begini.”
“Dasar lemah.. Masa begini saja sedih, kan, sudah kubilang masih ada kemungkinan kita akan bertemu lagi.”
“Aku dulu wanita, dan bukankah wanita memang lemah?”
“Kamu tinggal di mana, sih, saat di sana? Di tempat yang dengan sengaja membuat wanita terlihat lemah, ya?”
“Aku tinggal di kota besar, infrastruktur lengkap, segalanya ada. Transportasinya yang paling kusuka, walaupun macet luar biasa, tapi aku bisa naik commuter line. Apalagi sudah disediakan gerbong khusus wanita, yang membuatnya semakin nyaman.”
“Hal semacam itu justru berdampak buruk bagi wanita.”
“Gerbong khusus wanita? Buruk bagaimana? Itu justru berguna untuk melindungi wanita.”
“Terlihat melindungi, tapi sebenarnya sebaliknya. Secara tidak sadar, masyarakat terutama pria telah mengakui bahwa wanita itu lemah. Hal itu terkonstruksi di alam bawah sadar mereka. Gerbong khusus wanita untuk melindungi wanita? Artinya wanita memang lemah sehingga harus dilindungi.” “Tapi… Bukan begitu..”
“Lalu, bagaimana? Hal itu berpengaruh terhadap kehidupan sosial lainnya, contoh sederhana dalam rumah tangga masih ada KDRT oleh suami pada istrinya, secara tidak langsung suami masih merendahkan kedudukan istrinya. Mental itu lah yang tumbuh di masyarakat, kamu pasti tidak sadar.”
“Kamu kenapa berpikiran seperti itu?”
“Karena aku tidak begitu saja menerima apa yang ada. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan naik di gerbong khusus wanita. Lebih baik naik di gerbong umum, justru bagi mereka yang sadar, akan memberikan tempat duduknya untukmu.”
“Betul juga, sih. Aku pernah merasakan bagaimana sesaknya di gerbong khusus wanita dan sesama wanita tidak ada yang mau mengalah. Ada yang hampir bertengkar karena salah paham antara ibu-ibu, dan bahkan ada yang pernah pingsan dalam gerbong khusus wanita. Tapi.. Bagaimana kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi saat naik di gerbong umum?”
“Apa? Pelecehan seksual maksudmu? Itu tergantung bagaimana pembawaan dirimu di tempat umum. Jangan terlihat lemah dan lengah. Kamu harus terlihat tangguh, kalau ada yang macam-macam, ya balas saja. Tendang atau pukul kalau perlu, jangan takut. Kamu harus kuat dan cerdas untuk bisa melindungi diri sendiri.”
“Kamu ada benarnya juga.. Kenapa dulu tidak terpikirkan olehku hal yang semacam itu.”
“Kamu kan sudah cukup puas dan senang jika bisa melakukan apa pun yang kamu sukai. Satu lagi yang harus kamu perhatikan, gerbong wanita itu letaknya di ujung-ujung kereta. Justru gerbong yang paling potensial terjadi apa-apa kalau ada kecelakaan.”
“Aku baru sadar… Sepertinya aku sedikit sekali belajar saat di sana. Kenapa aku baru bertemu kamu sekarang? Di momen seperti ini? Kenapa kita tidak bertemu saat kita masih sama-sama di sana? Kan, aku bisa belajar banyak dari kamu. Tunggu, jangan-jangan kamu salah satu pria yang mendukung feminisme, ya?”
“Mendukung iya, tapi untuk beraliran feminisme, sepertinya tidak. Sudahlah, kita sudah ditakdirkan untuk bertemu. Tak masalah kapan dan di mana, intinya, kita ditakdirkan untuk bertemu. Bersyukurlah atas hal itu.”
Oh we were born to get together
Born to get together
Deep in her eyes
I think I see the future
I realize this is my last chance
“Aku bersyukur aku bertemu kamu, walau di saat yang tak pernah kuharapkan. Aku bersyukur aku bertemu kamu dan berkesempatan untuk mengenalmu, walau hanya sesaat. Aku bersyukur aku bertemu kamu, berbincang tentang hal yang tak pernah kuperbincangkan dengan manusia lain. Aku bersyukur aku bertemu kamu. Bersyukur kita dipertemukan. Semoga suatu saat nanti, kita akan dipertemukan lagi, yang kita sendiri tak pernah tahu bagaimana caranya.”
“Aku pun begitu. Tenanglah.. Semoga aku tidak tambah menghancurkanmu dengan harapanku. Sampai bertemu lagi.”
Mereka tetap mengitari satu sama lain, semakin dekat dan semakin dekat. Dekat, lalu senyap.
Hari ini, wajahnya begitu cerah. Seperti semburat mentari di pagi hari yang membawa kehangatan, serta kehidupan. Tubuhnya mungil, mendekapnya adalah satu hal mudah semudah mengucap syukur pada hembusan angin pertama yang menjatuhkan embun dari daun. Suaranya, lebih dari merdu. Seolah mendengar alunan malaikat surga yang menenangkan dan menghanyutkan. Kadang aku malah berpikir apakah aku di bumi atau di surga ketika mendengarnya bernyanyi… untukku.
‘’Bagaimana penampilanku hari ini?’’
‘’Cantik, seperti biasanya.’’ Sembari meluapkan senyum yang tak tertahan, kujawab pertanyaannya.
‘’Kamu tidak bosan menjawab dengan kalimat yang sama setiap hari?’’
‘’Kamu? Kamu tidak bosan bertanya hal yang sama setiap hari padahal tahu bahwa jawabannya akan selalu sama?’’ Kembali bibirku menyunggingkan senyuman lebar di hadapannya.
‘’Sejujurnya aku mengharapkan jawaban yang berbeda…”
“Jawaban seperti apa? Kamu boleh request sama aku jawaban yang kamu mau.” Lagi-lagi, senyumku tak tertahankan.
“Aku tidak mau request jawaban apapun dari kamu, Jo. Yang aku mau kan jawaban dari hatimu..”
“Ya itu jawaban dari hatiku, Pit.. Memang dasar perempuan, suka sulit dimengerti.’’
Sibuk dengan yang dikenakannya, ia lalu melupakan dialog rutin pagi hari kami. Selalu dengan pertanyaan yang sama, dan jawaban yang sama. Seperti itu kami mengawali pagi.
‘’Aku tidak sabar menunggu matahari esok pagi, warna apa lagi yang akan ia ciptakan di langit?’’ tanyanya tiba-tiba.
‘’Kenapa? Setiap hari sepertinya akan sama, matahari akan selalu menciptakan warna-warna yang itu-itu saja. Memang kamu mengharapkan warna apa?’’
‘’Entahlah, aku hanya ingin melihat matahari menciptakan warna baru di langit. Aku ingin melihatnya sesekali memberontak hukum alam. Sepertinya ia bosan akan warna-warna yang ia ciptakan tiap paginya, monoton. Kurasa ia juga ingin memberikan makhluk hidup di bumi tampilan warna baru yang menyegarkan mata.”
‘’Sekarang, hari apa, Pit?”
“Kamu gak nyambung, Jo. Kita kan gak lagi ngomongin hari. Lagi pula mau hari apapun matahari akan tetap gitu-gitu aja kerjanya.”
‘’Nggak, bukan gitu. Abisnya kamu, sih, tiba-tiba ngomongnya agak ngawur. Kali aja abis ini ada hujan meteor karena kamu, Pit. Atau hujan badai aja yang masih manusiawi?”
“Lho, memangnya hujan meteor gak manusiawi? Itu kan juga bisa terjadi layaknya hujan air, Jo..”
‘’Ya.. ya sudah. Makan mending, Pit. Gak lapar kamu? Atau ya, ambilkan aku sarapan kalau gitu..”
Terdiam di belakang jendela, ia memandangi langit yang memainkan awan. Kadang awan tebal seperti tumpukan kapas yang ditampilkan, kadang hanya awan tipis yang mungkin siapapun bisa menggambarnya dengan krayon. Ia memang selalu menyukai langit dan segala yang ada di sana. Seringkali ia ingin terbang bebas menjelajahi langit luas.
Terlalu sibuk memandangi langit, ia bahkan sering tak sadar matahari sudah pergi dan meninggalkannya bersama bulan.
‘’Jo, aku pingin bisa terbang. Rasanya menyenangkan sekali. Sudah cukup kupandangi langit setiap hari, aku pingin mencicipinya… angin, awan, pohon-pohon tinggi, bangunan-bangunan di bawahnya, aku pingin lihat semua itu dari langit, Jo. Aku pingin terbang tinggiii sekali, bahkan mungkin aku bisa mencapai matahari dan menyapanya, lalu kukatakan ideku untuk ia berontak dari hukum alam.’’
‘’Jangan ngayal tinggi-tinggi, Pit. Kata orang nanti jatuhnya sakit. Kalau kamu superhero kayak superwoman atau wonderwoman, ya bisa kali kamu mencapai matahari. Itu juga kalo gak gosong.’’
‘’Kenapa sih, Jo, sekali-sekali gitu dukung keinginanku. Gimana, sih, katanya sayang..’’
‘’Ya aku harus dukung gimana, Pit. Dukung kamu untuk naik pesawat aja aku gak bisa, apalagi dukung kamu terbang bebas seperti khayalanmu itu. Sudah, daripada kebanyakan ngayal, mending kita ikut nimbrung Pak Tua nonton tipi tuh di bawah. Sepertinya acaranya seru.”
‘’Kamu saja, Jo. Aku mau tidur saja.” Jawabnya ringkas.
‘’Mau ditemani ?’’
‘’Tidak, salam saja untuk Pak Tua, bilang jangan lupa kunci pintu yang benar sebelum tidur.’’
Aku sangat menikmati menonton tipi dengan Pak Tua dan istrinya. Mereka sangat kompak, bahkan dari cara mereka menonton tipi bersama rasanya aku bisa melihat bahwa mereka sangat menyayangi satu sama lain. Seringkali Pak Tua dan istrinya saling meledek, dan keduanya tertawa bersama. Andai saja ia mau kuajak nonton tipi bersama Pak Tua dan istrinya, pasti ia juga akan melihat bagaimana mereka saling menyayangi, yang terlihat bahkan dari hal-hal kecil. Malam semakin larut, aku akhirnya memutuskan untuk tidur. Sekarang, hari apa, sih? Kenapa rasanya panjang. Padahal sepertinya aktivitas yang aku-kami, lakukan itu-itu saja seperti hari biasanya.
Bulan melengkung indah di langit, cahayanya sampai menyentuh wajahnya. Aku selalu terpana, entah untuk keberapa kalinya. Dalam tidur ia bahkan selalu cantik. Cantik yang mempesona, bahkan aku rela tidur di seberangnya untuk selalu menatap wajah itu. Bukan aku tidak ingin tidur di sampingnya dan mendekapnya, tapi, rasanya jarak ini adalah jarak yang sempurna untuk menikmati indahnya. Terlalu sempurna.
‘’Pit, kamu mau ke mana?’’ tanyaku saat ia tiba-tiba bangun dari tidurnya dan bergerak menuju jendela. ‘’Jangan ke jendela malam-malam begini, lebih baik lanjutkan tidur.”
“Aku hanya ingin lihat langit sekali lagi, Jo. Aku ingin memastikan bulan tetap berada di sana.”
“Bulan akan tetap berada di tempat ia berada, Pit. Kembalilah tidur..”
“Kamu saja yang tidur, Jo. Aku mau di sini sebentar lagi.”
Hampir setengah jam aku menunggunya memandang langit malam ini, dan kantuk terus menyerangku sejak lima belas menit terakhir. Malam memang larut, tapi jam belum berdentang menandakan pukul dua belas, aku memutuskan untuk bertahan menunggunya hingga ia kembali tidur.
‘’Jo, kamu ngantuk berat, jangan dipaksa. Ayo kita tidur..’’
Kalimat yang kudengar sayup-sayup itu bagaikan usapan lembut jemarinya yang mengantarkanku ke alam mimpi, segera setelah ia mengantarkanku tidur.
“Pak… Lihat ini, Pak. Si Upit… Mati, Pak. Si Upit mati!”
Aku terbangun dengan pemandangan yang terlalu asing bagiku. Ia pergi. Pergi meninggalkanku yang terlalu lelap tidur. Pergi meninggalkanku dengan sisa kehidupannya, sehelai bulu yang bahkan dengan sebongkah emaspun tak terukur. Ia pergi. Pergi dijemput kepastian yang tidak pasti.
‘’Wealah, dimakan kucing kali, Bu, si Upit ini. Apa tikus?’’
‘’Tuh kan, Bapak, sih, sudah dibilang sebelum tidur lihat lagi kandangnya Upit sama Tarjo. Kalau semalam dicek kali si Upit masih ada, Pak..’’
‘’Yah, gimana, Bu, Bapak ngantuk berat semalam. Gak sanggup lagi naik ke atas ngecek kandang, wong Bapak saja ketiduran di depan tipi.’’
‘’Ya sudah, Pak. Bersihkan saja itu kandangnya dulu dari sisa-sisa bulu si Upit. Biar Tarjo ditaruh di kandang kosong dulu. Besok-besok ke pasar lihat-lihat burung baru, Pak. Buat temenin si Tarjo.’’
‘’Iya, Bu.. Ya sudah Bapak bersihkan dulu.’’
Pit, ke mana kamu, Pit? Lihat sini, matahari pagi sekarang menciptakan warna baru, gelap, Pit, seperti kehitam-hitaman. Tunggu.. mungkin aku yang tidak bisa membedakan warna ciptaan matahari dengan sangkar kecil ini, aku butuh kamu untuk menjelaskannya padaku, Pit.
Pulanglah.. atau, pergilah semaumu sekarang, Pit. Terbang, bebaslah kamu. Kirimkan salamku pada matahari kalau kamu benar-benar sampai ke sana. Terbanglah, Pit. Kali ini aku mendukungmu. Suatu saat nanti aku akan menyusulmu. Entah kapan. Biarlah jadi kejutan, bukankah hari ini kematian baru saja memberikan kejutan, Pit? Kejutan yang membuat kematian menjadi menakutkan, sebab ia adalah satu-satunya kepastian dalam ketidakpastian kehidupan. Kepastian yang datang tanpa pasti.
Sedangkan kamu, Pit.. Kamu ketidakpastian yang hinggap di hidupku, ketidakpastian yang pasti aku syukuri, ketidakpastian yang pasti aku nikmati, ketidakpastian.. yang pasti akan pergi. Kamu adalah ketidakpastian yang memberikan aku kehidupan, Pit, dalam hidupku yang tidak pasti.
Beritahu aku, Pit.. Sekarang, hari apa? Apakah hari ini adalah hari kepastian melumat habis ketidakpastiaan terindahku? Atau, hari ini adalah hari saat kehidupanku kembali kosong dengan kepergian ketidakpastian tercantikku?
Beritahu aku, Pit.. Sekarang, hari apa?
“what is love, what do you think of it?”
“i don’t know. why?”
“nothing. just a random thought. i wonder how could we love someone, i mean, that kind of feelings towards someone.”
“i don’t have the answer to that.”
“have you ever been in love?”
“i have.”
“been out of love?”
“i’ve been in love, and still. i don’t think i could find a way out of it.”
“so, are you with her? how is it? i mean, those feelings?”
“i’m not with her. never. and it’s fine.”
“but how come? aren’t you supposed to be together with the one you love? don’t you want to be with her?”
“i love her, i know. it doesn’t matter whether i’m with her or not. love is not about possession, it’s about appreciation. sometimes you don’t have to always be with the one you love, because love to me, it’s when you dare to love someone without demanding to be loved in return. and that’s exactly how i feel, if it could answer your question.”
“biggest bullshit, eh?”
“right, it’s transformed into a bullshit by the society. they think love is having the ones they love by their sides, to always be together.. happily ever after. but again, who really knows about love? that kind of feelings, as you said.”
“but when love means care for each other, how do you even care for her when you both aren’t together?”
“i pray for her. when you really care for people you pray for them.”
“is it enough?”
“it’s enough, when you understand.”
Aku tidak tahu mengapa penggalan percakapan itu yang kuingat saat Bejo mengantarkanku ke bandara. Bule satu itu memang aneh, tidak pernah bisa kutebak apa yang ada di kepalanya. Dan ternyata aku merindukannya juga. Sudah 2 pekan semenjak kepulanganku dari kampung halaman si Bejo. Bejo, memang beda dari yang lain, dengan nama yang sama persis seperti nama pemain sepak bola terkenal, dan sejak lahir tidak berkesempatan memiliki kekasih, jadilah dia kupanggil Bejo. Beckham jomblo. Selain bertujuan meledeknya, aku juga berharap agar dia beruntung dan segera memiliki kekasih. Bejo dalam bahasa Jawa, kan, artinya beruntung, toh?
Berbicara tentang kekasih, aku pun jadi teringat. Apa kabarnya kamu, kekasih? Baik saja kah?
… Aku rindu.
Rasanya ingin sekali kutuliskan surat untukmu. Akan kuceritakan semua yang kualami setiap hari. Apalagi tentang si Bejo, aku yakin kamu pasti akan tertawa terpingkal-pingkal kalau kamu tahu bagaimana tingkah lakunya yang aneh itu. Aku juga yakin kamu akan menyukainya kalau kalian berkenalan, karena kalian sama-sama aneh. Dan kalian sama-sama tak pernah bisa kutebak jalan pikirannya. Andai saja kamu tidak pergi, pasti masih ada tempatku berbagi. Aku masih membayangkan kamu di sini, bersama kita menatap sorotan senja yang jatuh di ujung pohon mangga depan rumahku. Menertawakan tingkah anak-anak yang saling berlarian, dengan secangkir kopi dan gitarku. Kamu ingat sore itu, kan?
Atau, kita akan pergi ke pasar swalayan yang besar, dan berjalan-jalan di sana. Bukankah itu salah satu hal yang kamu sukai? Mengelilingi deretan rak-rak besar dengan berbagai macam produk yang tersusun rapi, mengunjungi ikan-ikan segar yang siap mati, atau melihat buah dan sayur yang warna-warni? Kamu selalu senang melakukan itu, kekasih, dan aku selalu senang setiap kali melihat senyum lebar itu muncul ke permukaan wajahmu. Sungguh, aku rindu.
Mengenangmu dan seluruh hari yang kuhabiskan bersamamu memang tak ada ujungnya. Walaupun kamu sudah berlalu, tapi aku belum rela membiarkanmu menjadi masa lalu. Kamu masih di sini, kekasih.
“padahal aku ingin yang lampau, yang kini ternyata tak terjangkau.”
Kalau boleh kutambahkan sajak pada puisi Pak Sapardi itu, beginilah sajakku,
padahal aku ingin yang hilang, yang kini ternyata tak akan pulang..
Kamu pasti heran mengapa sekarang aku bisa menulis puisi. Aku menulis untukmu. Sejak kamu pergi, aku tak pernah memiliki kesempatan untuk mengatakan perasaanku padamu. Menghubungimu saja aku tidak kuasa, apalagi bicara padamu. Maka itu kutulis lewat puisi, untuk kamu, yang selalu menjadi inspirasi. Walaupun aku tidak tahu apa kah kamu bisa membaca puisi-puisiku. Tapi biarlah, biarkan aku mengabadikanmu dalam kata-kataku yang kaku. Setidaknya, dalam himpitan makna di kata-kataku, kamu tidak akan berlalu.
Bahkan sekarang aku sedang memikirkan kata-kata apa yang cocok untuk membuatmu terjebak dalam puisiku. Berada dalam bus yang melaju kencang ini pun tak membuatku mengurungkan niat untuk menulis semua kata yang terbesit di kepala, demi mendapatkan kata yang pas agar kamu terkurung dalam barisan maknaku. Untung aku memilih kursi di samping jendela. Aku bisa langsung melihat malam yang angkuh tanpa bintang, bahkan bulan seperti malu-malu untuk bersinar. Kamu tahu? Setiap aku melihat ke langit malam dan menemukan bintang, aku selalu teringat kata-katamu bahwa manusia memiliki atom yang sama yang ada pada bintang. Sebenarnya manusia tidak mati, tapi hanya pindah dari bumi ke langit. Dan kamu akan kesal karena aku tidak percaya kata-katamu, kan? Wajahmu lebih lucu kalau sedang kesal, tahu? Tapi sekarang aku mulai percaya, dan aku mulai membayangkan kalau kamu adalah salah satu bintang yang tersebar di langit malam. Sayangnya malam ini tidak berbintang. Kalau nanti kutemui malam dengan bintang dan kamu ada di sana, akankah kamu memberiku tanda bahwa bintang itu adalah kamu, kekasih?
Roda bus ini berputar semakin cepat, dan aku masih memikirkan puisi untukmu yang belum juga selesai. Di seberang jendela, aku melihat tepi jembatan yang remang-remang. Sepertinya tiang-tiang yang tingginya hanya sepinggang itu berwarna kuning kecoklatan, dari kejauhan juga banyak terlihat coretan-coretan liar. Kamu pasti akan berkomentar kalau melihat ini, bahwa orang-orang sulit sekali menjaga kebersihan fasilitas dan tempat umum. Tapi jika dilihat dari dekat, ternyata coretannya tidak sebanyak itu, justru yang banyak terlihat adalah cat yang sudah terkelupas di sana sini. Di balik tiang-tiang itu, ternyata ada sungai yang tenang, sayang masih terlihat sampah-sampah kecil yang hanyut perlahan. Kalau lihat ini, sudah pasti kamu akan komplain tentang orang-orang yang buang sampah di sungai. Lalu jika dilihat semakin dekat lagi, air, hanya air. Dan, gelap. Kertas yang berisikan setengah dari puisiku basah, kekasih. Pulpen yang kupengang juga hilang entah ke mana. Baju dan celanaku pun basah. Aku tidak bisa melihat apa-apa, sepertinya sungai tenang ini mengoyak seluruh tubuhku, menendang jauh-jauh cahaya lalu mengikat gelap di dalamnya. Oksigen yang sejak tadi kuhirup juga dilemparkannya ke permukaan, sementara ia terus memaksaku mencicipi dinginnya dasar sungai yang tak kunjung disuguhkannya.
Beri tahu aku, kekasih. Bintang mana yang akan kutinggali..
craig's restaurant, LA // 8 may 14 (x).
Reblogged from mrjohnmayer